“Dibandingkan dengan Boaz, bakat Ballotelli itu gak ada apa-apanya”Wim Risjbergen
Saya kaget mendengar quote itu. Tapi si sumber mengatakannya dengan serius dan mendengarnya dengan kuping sendiri. Ada kebangganan sejenak, tapi kemudian berubah galau membayangkan berapa banyak Boaz-Boaz lain disia-siakan di Indonesia. Ya, Indonesia adalah raksasa tidur bola dunia. Raksasa yang disuntik propofol oleh sebagian kecil rakyat sendiri untuk kepentingan mereka. Padahal bahan baku kita lebih besar dari Brazil, ibukotanya sepakbola. Sekarang raksasa itu mulai siuman tapi masih kesulitan menggeser pantatnya.
Executive Function, kenapa kita tak pernah naik level.
Ternyata bakat saja tidak cukup. Kalau cukup, saat ini kita bisa tetap menjadi macan asia seperti dekade 50an. Waktu itu bermodal bakat saja bisa membuat gemetar Lev Yashin, kiper legedaris Rusia, raksasa dunia saat itu. Tapi sepakbola kita yang salah urus dan diracuni mafia dan politik puluhan tahun membuat kita tertinggal jauh. Tercecer seperti keringat siput yang mengejar Usain Bolt.
Sepakbola modern membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan fisik dan teknik. Sepanjang pertandingan, pemain sepakbola sekarang harus menyerap begitu banyak infromasi, memproses dan membaca situasi, lalu bergantung pada pengalamannya untuk memutuskan reaksi apa yang harus diambil. Dia harus selalu fleksible pada situasi dan peluang. Sebuah reaksi harus di formulasikan, dieksekusi dan direvisi dalam hitungan seperseribu detik.
Proses kognitif yang mengatur antara pikiran dan aksi ini disebut executive function. Proses ini meliputi perencanaan, pemecahan masalah, berpikir kreatif, pemnggunaan umpan balik, dan fleksibiltas kognitif ( mengubah dengan cepat rencana aksi). Semakin tinggi executive function yang dimiliki pemain, semakin besar peluang kesuksesannya di level tinggi sepakbola.
Sebuah riset di Swedia baru-baru ini membuktikan hal ini dengan membandingakan sampel dari Allvenskan (Level tertinggi) dengan sampel dari Superettan dan Divisi 1, dua divisi terbawah liga. Para pemain dicoba beberapa tes psikologis, salah satunya disebut tes Design Fluency (NEPSY). Pada saat tes, pemain diberi kertas dengan banyak susunan titik. Mereka diminta untuk menemukan sebanyak mungkin cara untuk menyambung titik-titik itu menjadi kotak menggunakan satu garis. Tujuannya adalah untuk membuat sebanyak mungkin kombinasi dalam waktu 60 detik.
Hasilnya menunjukkan bahwa executive function para pemain Allsvensan mempunyai rata-rata 15% lebih baik dari divisi yang lebih rendah. Ini membuat para peneliti menyimpulkan bahwa executive function punya peran besar dalam kesuksesan seorang pemain.
Studi yang mirip dengan subjek dan tujuan yang berbeda juga dilakukan oleh Universitas Gronigen di Belanda setahun yang lalu. Para peneliti memanfaatkan konsep ini untuk memprediksi kesuksesan masa depan seorang pemain. Mereka menemukan bahwa kemampuan taktik “postioning and deciding” adalah faktor kunci yang menentukan apakah pemain itu akan menjadi pemain amatir atau profesional.
Para peneliti menggunakan sample anak-anak paling berbakat di akademi klub-klub elit Belanda. Pada umur 17-18 tahun, para pemain diberi tes “Tactical Skill Inventory for Sport (TACSIS). Tes ini mengukur pengetahuan pemain pada aturan permainan, juga kepercayaan diri mereka mengeksekusi taktik secara spesifik. Tujuannya untuk menilai pengetahuan, decision-making dan eksekusi keputusan yang ditampilkan pemain dalam pertandingan.
Para pemain kemudian diamati sampai dewasa. Setelah itu pemain di bagi menjadi 2 kelompok: 1 kelompok para pemain profesional dan satu kelompok pemain yang bermain di liga amatir. Para peneliti menemukan tidak ada perbedaan dalam pengetahuan permainan antara pemain profesional dan amatir. Tapi, mereka yang mendapat nilai tinggi di “positioning and deciding” pada saat muda ternyata 7 kali lebih berpeluang menjadi pemain profesional daripada mereka yang nilainya rendah. Terutama untuk mereka yang berposisi sebagai gelandang.
Ini menjawab pertanyaaan kenapa hampir separuh dari pemain-pemain usia muda paling berbakat di Belanda gagal mencapai level profesional. Padahal rata-rata mereka sudah berlatih teknik dan taktik selama 10 tahun. Ternyata yang membedakan pemain amatir dan profesional adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dan memposisikan diri mereka dengan pas di lapangan.
Boaz dan 50 juta bakat yang sia-sia.
Dosa paling besar dari kepengurusan PSSI selama ini adalah pembiaran mereka terhadap pembinaan usia dini. Lho kan ada proyek Primavera, Baretti dan SAD? Mengirim puluhan bakat dengan cara yang instant tapi gemerlap di bawah sorotan kamera pers dan menyia-nyiakan jutaan anak-anak indonesia yang lain adalah kebijakan jahat. Hasilnya? Sebuah keluarga dianggap berjasa besar pada sepakbola nasional padahal Syamsir Alam dkk tetap saja dibantai jepang 0-7 di PPA U-19 2009. 2 tahun setelah mereka berlatih di Uruguay.
Talent scouting dan pembinaan kita harus diubah. Bukan hanya berdasar bakat dari kemampuan fisik dan taktik, tapi juga psikologis, executive functionnya. Bukan hanya aksi ketika menggiring bola, tapi juga pergerakan tanpa bola. Bukan melatih belasan anak 1-2 tahun di negeri wah, tapi melatih sebanyak mungkin anak-anak indonesia, meski lapangannya berlumput atau berdebu. Memberi mereka pelatih yang mengerti youth program, mencetak instruktur dan peringkat pertandingan yang memahami aturan. Membuat piramida pembinaan sehingga bakat-bakat itu terlatih mengambil posisi dan keputusan yang tepat. Tanpa scouting yang menjangkau seluruh nusantara, dan tanpa pembinaan juga kompetisi berjenjang sejak dini, Boaz-Boaz baru dengan kecerdasan seperseribu detik itu hanya akan layu sebelum menjadi pemain profesional level dunia.
Tapi itu jalan panjang, berbatu, menanjak dan gelap yang harus ditempuh sepakbola kita yang sudah jauh tertinggal. Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus digarap. Pekerjaan yang sangat berat apalagi kalau ditambahi beban para perusuh yang tak pernah lelah mengacau. Kalau kemudian gara-gara para pengacau itu PSSI tergoda lagi dengan cara-cara instant seperti proyek-proyek populis selama ini, demi mengangkat citra semata. Mimpi timnas kita mengangkat trophy itu akan butuh tidur yang lebih panjang lagi.
Tidak perlu ke Barcelona kalau tahun depan Piala Suratin gagal di gelar di Bulukumba.
